Manusia yang mengalami penderitaan sampai solusi pemecahannya dan Manusia dan kasih saying terhadap sesama

Juni 25, 2016 at 12:48 am (Uncategorized)

  1. Manusia yang mengalami penderitaan sampai solusi pemecahannya.

 

SuatSuatu ketika ada seorang karyawan yang terkena PHK dari tempat kerjanya, dia hanya mendapatkan pesangon sebesar 2juta saja. Dalam keadaan kena PHK, dia juga sedang menunggu istrinya yang akan melahirkan anak mereka, yang menurut dokter tinggal menunggu 2 mingguan lagi.

Sebagai manusia normal, tentunya orang ini akan pusing tujuh keliling tentunya, mungkin bagi sebagian orang akan mengatakan bahwa dia mengalami kesialan berlipat ganda dengan masalah yang bertubi-tubi, namun ternyata suami istri ini adalah orang yang soleh. Ketika masalah datang, mereka segera memohon ampun kepada Allah SWT, memohon pertolongan, memohon petunjuk, dan mereka berserah diri kepada Allah SWT.

Hari kelahiran tiba, sang suami membawa istrinya ke bidan untuk proses persalinan, namun ternyata cobaan dari Allah SWT datang lagi menghampiri mereka. Bidan tersebut mengatakan ada kelainan pada kandungan istri dan anak yang ada di rahim, sang bidan menyarankan untuk membawa ke rumah sakit agar bisa ditangani lebih baik.

 

Akhirnya sang suami membawa istrinya ke rumah sakit, dan cobaan dari Allah SWT ternyata datang lagi saat sang dokter memvonis bahwa istri dan anaknya hanya memiliki kesempatan untuk bertahan hidup dengan presentase yang kecil karena keadaan mereka yang cukup kritis. Suami ini tetap yakin kepada Allah, dia menunggu istrinya melahirkan (entah dengan caesar atau normal tidak disebutkan) hingga sang anak lahir ke dunia.

Anak yang lahir ternyata kondisinya semakin memburuk, dan dokter sudah angkat tangan karena mereka tidak bisa memberikan penanganan lebih lanjut mengingat kondisi sang anak yang terus memburuk. Suami yang soleh ini melihat sisan uang pesangon dari tempat kerjanya, uang 2juta tinggal 1,6 juta saja, dan dengan keyakinannya dia menyedekahkan semua uangnya itu sampai habis, lalu dia bersujud memohon pertolongan kepada Allah SWT.

Sungguh Allah SWT maha berkuasa, anak yang kondisinya memburuk tiba-tiba membaik tiap harinya, dan dengan kesabaran dan tawakal sang suami, akhirnya sang anak dinyatakan sehat dan bisa dibawa pulang ke rumah setelah 27 hari dirawat di rumah sakit.

Ternyata cobaan tersebut belum berhenti, biaya persalinan di rumah sakit tersebut kira-kira 27 juta jumlahnya, dan sang suami sudah tidak memiliki uang untuk menebusnya, sedangkan dia lupa membuat surat keterangan miskin karena sebelumnya sedang panik menghadapi keadaan anak dan istrinya yang mengkhawatirkan.

Tidak punya jamkesmas, askes, bpjs, dan bantuan lainnya, mengharuskan sang suami mencari pinjaman uang untuk biaya persalinan. Dia datang ke rumah salah satu temannya dan meminjam uang, namun temannya hanya memiliki uang 2juta saja.

Menyadari uang itu tidak cukup untuk membayar biaya RS, sang suami yang soleh ini kembali nekad, dia menyedekahkan semua uang pinjaman tersebut hingga tersisa 10ribu, dan uang sisa tersebut dia bawa ke dalam masjid. Di dalam masjid sang suami memasukkan uang tersebut ke dalam kotak amal, dia sholat dan berdoa sambil menangis karena dia sudah tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi kecuali kepada Tuhannya.

Maha besar Allah dengan segala kekuasaan-Nya, disaat dia berdoa tiba-tiba datang seorang ibu-ibu yang mendengar do’a suami ini, dan sang ibu memberikan bantuannya dengan menyerahkan uang yang dibungkus kantong plastik hitam. Saking bersyukurnya, sang suami tidak menyadari bahwa sang ibu sudah pergi dan dia belum sempat berterimakasih kepadanya, dia lari mencari ibu-ibu yang membantunya, namun hampir seluruh ruangan rumah sakit dia datangi dan dia tidak bisa menemukan sang ibu yang menolongnya itu. Entahlah, itu apakah benar ibu-ibu atau jelmaan malaikat yang dikirimkan oleh Allah SWT.

Saat sang suami datang ke administrasi, dia belum tahu berapa uang yang ada di dalam kantong tersebut, dan saat dihitung, Subhanallah…jumlahnya pas 27juta. Biaya rumah sakit lunas, anak dan istrinya sehat, dan cobaan dari Allah SWT berhasil mereka lewati dengan suka cita.

Sungguh kekuasaan Allah SWT sangat luas, pertolongan-Nya sangat dekat, dan hanya kepada-Nya kita harus berserah diri. Sebuah kisah yang membuat saya merinding, bagaimana keyakinan seorang yang sedang dalam keadaan terjepit, bisa melalui segala cobaan yang tidak bisa diselesaikan dengan pemikiran manusia.

 

 

  1. Manusia dan kasih saying terhadap sesama.

 

Kisah nyata ini ditulis oleh seorang dosen ITB bernama Rinaldi Munir mengenai seorang kakek yang tidak gentar berjuang untuk hidup dengan mencari nafkah dari hasil berjualan amplop di Masjid Salman ITB. Jaman sekarang amplop bukanlah sesuatu yang sangat dibutuhkan, tidak jarang kakek ini tidak laku jualannya dan pulang dengan tangan hampa. Mari kita simak kisah “Kakek Penjual Amplop di ITB”.

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang Kakek tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun Kakek itu tetap menjual amplop. Mungkin Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran Kakek tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat Kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu Kakek itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi Kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si Kakek tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, Kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat Kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

Si Kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si Kakek tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si Kakek tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si Kakek tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

Mari kita bersyukur telah diberikan kemampuan dan nikmat yang lebih daripada kakek ini. Tentu saja syukur ini akan jadi sekedar basa-basi bila tanpa tindakan nyata.

 

 

 

Sumber:

  1. http://kisah-tertulis.blogspot.co.id/2016/06/antara-cobaan-perjuangan-sedekah.html
  2. https://iphincow.com/2012/04/18/kisah-kakek-penjual-amplop/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: